Beberapa waktu lalu di Indonesia yang kita cintai
ini disinggahi oleh fenomena yang langka yaitu gerhana matahari. Yaitu pada
hari Rabu, 9 Maret, penduduk di beberapa bagian Australia dan Asia Tenggara menyaksikan
gerhana matahari total tersebut. Gerhana matahari itu terjadi ketika Bulan
melintas langsung di antara Bumi dan Matahari, yang mana itu menyebabkan
bayangan jatuh menimpa Bumi. Ini hanya dapat terjadi pada fase bulan baru -
ketika sisi gelap bulan menghadap ke Bumi. Sebaliknya, gerhana bulan terjadi
ketika Bumi melintas di antara Matahari dan Bulan, menyebabkan bayangan
menutupi bulan.
Gerhana matahari
total bisa terjadi sekitar 300 tahun di tempat yang sama. Kecuali
memang ada daerah yang beruntung seperti Sumatera Selatan dan Bangka itu mendapatkan
gerhana pada tahun 1988, kemudian 9 Maret 2016 itu berulangnya 28 tahun, kalau gerhana
matahari sebagian sering, ini yang total kalau seperti Jawa berulangnya secara
rata-rata itu di atas 300 tahun sekali.
Banyak mitos tentang gerhana matahari total ini. Mitos
tentang gerhana menjadi cerita rakyat Indonesia yang diwariskan dari generasi
ke generasi terutama di Jawa dan Bali. Dongeng tentang raksasa menelan Matahari
dan Bulan yang menyebabkan keduanya menghilang, lalu muncul kembali setelah
dimuntahkan. Padahal sebenarnya gerhana matahari itu adalah murni sebagai
fenomena alam atas kuasa Tuhan. Kita tidak boleh terlalu lama melihat langsung karena
bisa membahayakan mata, terutama ketika proses gerhana terjadi, tetapi ketika
fase total justru aman untuk mata. Kita aman untuk melihatnya jikalau memakai
alat yang tertentu yang aman untuk kita gunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar